«

»

May
24

Peran Ayah Dalam Mengasuh Anak

Jangan sepelekan peran ayah dalam mengasuh anak-anaknya. Sekitar 80% karakter ditiru anak dari ayahnya dan 20% dari ibunya. Kecerdasan anak juga dipengaruhi seberapa sering interaksi ayah-anak. Hasil riset banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. Dan tahukah Anda, interaksi yang baik antara anak dan ayah ternyata sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.

Konselor anak dan remaja dari Yayasan Langkah Kita,  Irwan Rinaldi menjelaskan, ayah memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Sekitar 80%, anak akan meniru karakter ayahnya dan 20% akan meniru ibunya. Jika ayah tidak ikut berperan aktif dalam pengasuhan anak, maka yang akan terjadi adalah hilangnya karakter ayah. Fathering merupakan konsep, sosok ayah ikut serta dalam pengasuhan anak, terutama secara psikologi.
“Kewajiban ayah dalam mengasuh anak, lebih menitikberatkan kepada aspek psikologi, sehingga peran ayah akan tetap ada. Bahkan, dia (ayah) pantas menjadi tempat curhat anak yang paling nyaman,” ujar  Irwan Rinaldi di Jakarta, kemarin.

Irwan melanjutkan, anak, terutama anak perempuan, akan nyaman mencurahkan hati kepada ayah, karena di masa-masa perkembangannya, sang anak memiliki rasa persaingan kepada ibunya.

Bagaimana jika ayah sangat sibuk? Dia mengatakan, sibuk bukan alasan untuk tidak ikut  mendidik anak. Misalnya, jika ayah sering pulang malam maka luangkanlah waktu sebentar saja untuk menemani anak berangkat tidur. Dengarkan cerita anak selama seharian saat ayah sedang tidak ada karena bekerja. Begitupun saat ayah berada di luar kota dan biasa pulang satu bulan sekali, dia bisa tetap menjaga komunikasi dengan anak-anaknya.

“Kita semua tentu bersepakat bahwa usia 0-16 tahun adalah usia penanaman konsepsi hidup dan peletakkan pondasi karakter diri. Dan bila masa ini terlewati tanpa kesadaran penuh, berarti ada kesalahan mendasar dalam konsep pendidikan dan pengasuhan kita,terutama pendidikan dan pengasuhan anak,” tambahnya.

Sayangnya, menurut Irwan, Indonesia merupakan salah satu fatherless country yaitu negara yang banyak memproduksi tokoh ayah tapi kekurangan peran ayah. Sementara pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab dan kewajiban orangtua yaitu ayah dan ibu, bukan hanya ibu semata.

Bila proses pendidikan dan pengasuhan anak tidak maksimal alias ada langkah yang terlewatkan, hal ini akan menimbulkan kekosongan emosi dan konsepsi pada anak. Anak dalam usia dini adalah pembelajar yang hebat, mereka belajar dengan melihat, mendengar, dan mempraktekkan atau mencoba-coba. Mereka adalah peniru-peniru yang memiliki kecepatan dan keakuratan luar biasa. Apapun dan siapapun bisa menjadi guru bagi tunas-tunas bangsa ini tanpa penolakan.

Anak memang seperti spons, menyerap dan merasakan apapun. Mereka belum memiliki konsep dan belum memiliki fitur-fitur filter, sehingga pendidikan dan pengasuhan anak adalah penanaman konsepsi dan tata diri atau pembentukkan karakter pribadi. Bila anak memiliki konsep diri dan karakter pribadi yang kuat, maka dia akan mampu bergerak dan menata kemampuannya sesuai dengan keunikkan dan keinginannya.

(Iis Zatnika – pdpersi.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>