«

»

Sep
13

Sri Utami- Aneka Peran Dimulai Dini Hari

Aneka Peran Dimulai Dini Hari- begitulah tulisan besar pengisi kolom Inspirasi halaman X harian SOLOPOS pada hari Senin Pahing tanggal 10 September 2012 yang memuat kisah keseharian ibu pendiri RS MOJOSONGO GROUP yang terkenal dengan semboyannya MURAH CEPAT dan AMAN

berikut adalah petikan dari surat kabar tersebut

Aneka Peran Dimulai Dini Hari

Entahlah, predikat apalagi yang  pas untuk perempuan satu  ini. Saat muda, ia pernah menjadiburuh cuci baju, juru masak, cuci mobil, jualan sayur dan jamu keliling, hingga mencari barang rongsokan. Semua itu, ia lakukan demi menyekolahkan anak-anaknya dan suami tercintanya, Muzakir, hingga menjadi dokter spesialis anestesi-  spesialisasi ilmu kedokteran yang masih langka di Indonesia kala itu. Ya, dia menyekolahkan suaminya yang guru ke Fakultas Kedokteran. Kini, setelah ia berhasil mendirikan sejumlah rumah sakit (RS) bagi warga miskin di Soloraya, perempuan asal Kediri, Jatim ini tetap menggenggam pelita dalam jiwanya untuk memberi jalan terang bagi orang-orang di sekelilingnya.

Sri Utami. Itulah sosok ibu kelahiran 1946. Meski usianya 66 tahun, ketuaannya itu sama sekali tak tampak dan luar. la tetap beraktivitas sama seperti saat menjadi buruh kasar di masa mudanya dulu. Dini hari selepas menunaikan Salat Tahajud, Sri Utami tak pernah lupa melakukan ritual sosialnya, mengelilingi karnar-kamar RS sambil menebar doa dan harapan kepada para pasiennya. “Cepat pulang ya. Jangan berlama-la ma di rumah sakit,” demikian doa Sri yang selalu ia sampaikan kepada para pasiennya.

Ketika jarum jam bergeser sekitar 02.30 WIB. Sri lantas meluncur ke pasar Legi untuk belanja sayur- sayuran dan aneka kebutuhan dapur. Seusai berbelanja, ia  meluncur lagi ke salah satu rumah sakitnya di Palur, Karanganyar. Di sana, ia membikin sendiri minuman hangat untuk seluruh satpam dan pekerja rumah sakitnya. “Padahal, jumlah karyawan ibu ada 80-an orang,” kata Nurdina , Sekretaris Sri Utami saat berbincang dengan Espos di salah satu rumah sakit Sri Utami di Mojosongo Solo, akhir pekan lalu.

Aktivitas Sri Utami masih belum berhenti di situ. Menjelang beduk Subuh ditabuh, ia bergegas ke masjid, menyentuhkan keningnya pada sajadah. Setelah itu, ia menyapu halaman rumah dan rumah sakit nya di Mojosongo.

Digaji

Ketika semburat cahaya mentari memerah di ujung timer, kolam renang Tirtomoyo pun menjadi tempat favorit Sri untuk menyalurkan hobi olahraganya berenang.

Ibu yang masih satu saudara dengan ulama kharismatik asal Kediri KH Ahmad Sodiq itu rupanya menjadikan olahraga renang sebagai penjaga kesehatannya selama ini. “Selain itu, saya juga instruktur senam aerobik Iho. Makanya, saya tetap kelihatan segar. Ha..ha… ha…” katanya sembari tertawa.

Di sela-sela waktu itulah, Sri menyempatkan diri membikin minyak parfum untuk dijual kepada para pedagang kecil di Mojosongo. Ia tak bisa menolak jika ada warga yang memintanya untuk dilayani lulur kecantikan. Setelah semuanya beres, Sri barn mulai duduk tenang dan menulis. “Menulis itu bisa menghidupkan suasana batin. Dan bisa meredam rasa marah,” terangnya.

Atas serangkaian pekerjaannyaitu, Sri menerima gaji Rp1,5 juta/hulan dari RS yang ia dirikan itu. Lantas, boat apa gall yang sesungguhnya tak sebanding dengan posisinya saat ini di RS-nya itu? “Ya, untuk anak­anak yang putus sekolab, urnrohin orang. Pokoknya, banyaklah. Gusti Allah itu kan kaya,” jelasnya.

Sri mernang bukan sedang bercanda. Ia melakukan serangkaian aktivitas itu bukan tanpa alasan. Baginya, pekerjaan apa pun asal halal adalah mulia. Dan Sri, sesungguhnya ingin memberikan teladan kepada para karyawan dan anak-anaknya bahwa bekerja itu adalah anak tangga menuju Tuhan

Kerap Dianggap Pembantu RS

Sri Utami memang tipikal manusia langka. Meski saat ini ia dan suaminya berhasil mendirikan sejumlah rumah sakit (RS) di Soloraya, gaya hidupnya tetap tak berubah. Ia tetap bersahaja, apa adanya dan tak jarang kelewat “kejam” kepada diri sendiri. Mungkin karena itulah, banyak orang, kerap salah menilainya “Saat saya menyapu rumah sakit ini saya sering dikira pembantu rumah sakit ini,” ujar Sri sambil tersenyum saat berbincang dengan Espos, akhir pekan lalu.

Sri punya setumpuk cerita soal ariggapan kepada dirinya sebagai pembantu ini. Anehnya, Sri sangat menikmati anggapan-anggapan lucu dan keliru  pada dirinya itu. “Saya enggak pernah tersinggung apalagi marah. Biasa saja. Kan memang belum tahu;” jelasnya.

Pernah, ia dijauhi warga dalam pergaulan keseharian lantaran dikira hanya tukang masak dan cuci pakaian. Namtm, setelah ada salah satu media memberitakan kiprah suaminya sebagai dokter, warga pun tiba-tiba berubah dan tak lagi memandang sinis kepadanya. “Dulu, yang bisa tinggal di perumnas kan PNS yang sudah berpangkat. Nah, ketika kumpul-kumpul bersama ibu PKK, ada saja yang tak mau duduk bersebelahan denganku,” aku Sri.

Ada lagi pengalaman yang lebih buruk dari itu. Ibu empat anak ini malah pernah diusir oleh pegawainya sendin saat duduk di ruang depan RS Mojosongo. Kala itu, pegawainya hendak membersihkan ruangan depan RS. Sri yang kala itu tengah duduk di sana, mendadak diminta pergi pleh pegawati: aya sendiri. “Ya, karena enggak tahu, saya pun pergi. Saya enggak perlu marah,” paparnya.

Sri merintis sejumlah RS di Mojosongo, Palur, serta di Delanggu tidak dengan mudah. Apalagi dalam hidupnya, ia sama sekali tak mengenal karnus untuk mengambil utang. Alhasil, semua biaya pendirian rumah sakit, peralatan, obat-obatan hingga pegawai ia kumpulkan dari usaha dan keringatnya bersama suaminya sedikit demi sedikit. ‘Ada rezeki sedikit, dikumpulkan. Terus-menerus kan akhirnya jadi. Saya enggak mengenal utang,” paparnya.

Inilah barangkali yang membuat gedung RS-nya ketika awal berdirl kerap diledek sebagai. RS kandang ayam. Maklum, RS untuk kalangan orang tak mampu itu tak seperti umumnya RS yang sekali ntenjelma langsung berdiri megah dan gagah. “Saat berdiri, saya hanya memiliki satu pegawai. Saya bertindak sebagai pembantu umum, membantu memasak, menggantikan posisi sopir, sampai menyapu lantai,” papamya.

Modali Perawat Untuk Buka Klinik

Rezeki, kata Sri Utami, itu sudah diatur oleh Tuhan. Sri yakin bahwa setiap manusia telah memiliki jatah rezeki masing-masing. “Tinggal, manusia mau menjemputnya tidak?” kata Sri dalam percakapannya dengan Espos akhir pekan lalu.

Atas dasar itu, Sri selalu meminta kepada para karyawannya dari kalangan perawat untuk membuka klinik kesehatan di rumah. Jika belum mampu, Sri siap membantunya, balk material maupun imaterial. “Susahnya, apa sih nolong orang sakit. Kalau memang hanya punya satu kamar, bangun sebelum subuh. Biar katnarnya pagi hari bisa untuk k buka klinik kesehatan warga yang membutuhkan,” kata Sri.

Sri percaya memiliki Tuhan kalkulasi tersendiri atas setiap kebaikan. Itulah sebabnya, Sri sama sekali tak cemas jika para perawatnya bakal lari atau mendua hati lantaran usaha sampingannya itu. Ia bahkan tak hanya memberi modal materi, juga keleluasaan waktu antara bekerja di RS dengan usaha klinik di rumah. “Kalau yang mau kuliah lagi, saya dukung penuh. Saya malah bangga karyawan saya akhirnya bisa mandiri,” paparnya.

Belajar Memasak

Tak hanya para perawat, dalam unisan masak-memasak pun, Sri member’I keleluasaan penuh kepada para pembantunya. Jika ada siaran televisi tentang tata boga, Sri selalu meminta para pembantunya untuk menghentikan akti vitas memasaknya di dapur. Mereka diminta menonton acara TV itu untuk belajar memasak. Selanjutnya, Sri Utami yang akhirnya menggantikan posisi pembantu memasak di dapur. “Biar para pembantu punya keahlian memasak juga seperti tukang masak di TV itu,” urainya.

Sekretaris Sri Utami, Nurdina, tak bisa memungkiri kenyataan itu. Selama is mengabdi di keluarga Sri Utami sejak 2003 lalu, Nurdina banyak mendapatkan pelajaran berharga. Mulai kebaikan Sri yang meluas samudra, kegigihan semangatnya yang menggunung serta istikarnahnya dalam menjalani hidup. “Ibu itu [Sri Utami] enggak pernah berpikir negatif. Ia selalu positif terus kepada siapa pun,”terangnya.

Suka Nyuci Bareng

Sri Utami Adalah sosok yang sama sekali tak mengenal kasta atau status sosial. Kepada para pembantunya, kata Sapartyaningsih, Sri terbiasa membantunya mencuci baju. Juga saat memasak, Sri juga sering membantunya. “apalagi kalau Cuma mau makan, Ibu [Sri Utami} selalu ambil sendiri didapur. Enggak mau saya ambilkan” ujarnya.

Begitu pun saat ada tamu, sri juga terbiasa mengambilkan sendiri makanan di dapur untuk tamunya. Malam hari sebelum istirahat, Sri juga yang membersihkan ruang dapur. Saat sakit, Sapartyas terbiasa dijenguk dan dibawakan obat-obatan oleh majikannya. Semua itu dilakukan Sri semata-mata karena sisi-sisi kemanusiaan tanpa penghalang kasta atau status sosial.

Salat Tahajudnya Luar Biasa

Di mata Reki Irawan, 19, Sri Utami bukanlah seperti seorang hos atau majikan umurnnya. Dia lebih pada tipe orang tua yang dengan tekun membimbingnya untuk selalu hidup dalam hingkai kejujuran. Petugas kebersihan RS Mojosongo ini mengaku sangat terkesan dengan Sri Utami. Salah satunya ialah soal ketekunannya menjalankan salat malam. “Salat Tahajudnya luar biasa. Saya sampai malu karena saat dibangunin, susali sekali bangunnya saya itu,” katanya. Sant hal lagi yang membuat Reki betah menjadi karyawan RS Mojosongo. Selama dua talum mengabdi di sana, Reki terbiasa melihat Sri membersihkan rumah dan halaman sendiri. “Beliau juga sangat dermawan kepada pembantu­pembantunya. Makanya pada betah semua,” paparnya.

itulah gambaran kehidupan ibu Sri Utami selaku pendiri dan pemilik RS MOJOSONGO serta sedikit kesan dari para pegawai RS MOJOSONGO… semoga ibu Sri Utami senantiasa diberikan kesehatan dan kesempatan oleh Allah SWT supaya RS MOJOSONGO tetap selalu mendapat bimbingan beliau dan selalu terdepan dalam pelayanan kesehatan yang MURAH CEPAT AMAN!

1 comment

No ping yet

  1. FirstClaudio says:

    I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic, you can earn extra bucks
    every month because you’ve got high quality content.
    If you want to know how to make extra money, search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>